Widget HTML Atas

Bagaimana proses belajar menurut Teori Jerome Bruner

Bagaimana proses belajar menurut Teori Jerome Bruner ~ Langsung Klik memposting tentang artikel mengenai teori belajar dan psikologi dalam pembelajaran. kali ini kita bahasa tentang teori belajar menurut teori jerome bruner. berikut ini artikelnya silahkan dibaca :

Bagaimana proses belajar menurut Teori Jerome Bruner

Pertanyaan yang Sering dicari tentang Teori Bruner

1. Bagaimana proses belajar menurut Jerome Bruner?
2. Bagaimana Teori pengajaran menurut Jerome Bruner?
3. Apa saja alat mengajar menurut Jerome Bruner?

Tujuan Artikel tentang Teori Bruner

1. Untuk mengetahui proses-proses belajar menurut Jerome Bruner
2. Untuk mengetahui teori pengajaran menurut Jerome Bruner
3. Untuk mengetahui alat- alat mengajar menurut Jerome Bruner

Pembahasan tentang Teori Belajar Menurut Bruner

Tujuan belajar yang paling utama adalah apa yang dipelajari itu berguna dikemudian hari, yakni membantu kita untuk dapat belajar terus dengan cara yang lebih mudah. Hal ini dikenal sebagai transfer belajar. Apa yang kita pelajari dalam situasi tertentu memungkinkan kita untuk memahami hal-hal lain. Transfer inilah yang menjadi inti dalam proses belajar.

Demikian pula dengan tujuan pelajaran bukan hanya penguasaan prinsip-prinsip yang fundamental, melainkan juga mengembangkan sikap yang positif terhadap belajar, penelitian, penemuan, serta pemecahan masalah atas kemampuan sendiri. Menyajikan konsep-konsep yang fundamental saja tidak dengan sendirinya menimbulkan sikap demikian. Masih perlu penelitian dalam soal ini. Namun dianggap proses menemukan sendiri akan menimbulkan sikap demikian.

Untuk itu penulis akan mengemukakan salah satu metode belajar yakni teori belajar Jerome Bruner yang sekiranya mampu mengatasi hal-hal diatas.

Pendekatan psikologi kognitif dalam teori pengajaran dipelopori oleh Jerome Bruner (1915-) seorang ahli psikologi belajar dan psikologi perkembangan. Bruner banyak melakukan penelitian psikologi terutama mengenai persepsi, motivasi, belajar dan berpikir. Bruner menganggap manusia sebagi pengolah informasi, pemikir dan pencipta. Mahaguru Universitas Harvard ini pernah mendirikan pusat penelitian untuk mempelajari kognitif dan juga menjadi pimpinannya. Penelitian dan ide-idenya dipengaruhi oleh Piaget terutama mengenai perkembangan kognitif manusia. Ia juga memperluas kontribusi psikologi dengan mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai bidang seperti Biologi, Antropologi, Sosiologi, Linguistik, Filsafat dan lain-lain. Sungguhpun demikian ia mengakui bahwa pikiran-pikirannya berkat sumbangan dari banyak pemikir. Sumbangan itulah yang juga menolong pola berpikirnya. Ia sangat menaruh perhatian kepada; Apakah yang diperbuat manusia dengan informasi yang diterimanya dan bagaimana mereka menggunakan informasi untuk mencapai pengertian umum atau pemahaman kemampuannya.

Proses Belajar Menurut Teori Jerome Bruner

Menurut Bruner, dalam proses belajar dapat dibedakan tiga fase atau episode, yakni (1) informasi, (2) transformasi (3) evaluasi (pengkajian pengetahuan).

Informasi, dalam tiap pelajaran kita peroleh sejumlah informasi ada yang menambah pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya, misalnya bahwa tidak ada energi yang lenyap.
Transformasi, informasi itu harus dianalisis diubah atau ditransformasi kedalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas. Dalam hal ini bantuan guru sangat diperlukan.

Evaluasi, kemudian kita nilai hingga manakah pengetahuan yang kita peroleh dan transformasi itu bisa dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.
Dalam proses belajar, ketiga episode selalu ada. Yang menjadi masalah ialah berapa banyak informasi yang diperlukan agar dapat ditransformasikan. Lama tiap episode tidak selalu sama. Hal ini antara lain juga bergantung pada hasil yang diharapkan, motivasi murid belajar, minat, keinginan untuk mengetahui dan dorongan untuk menemukan sendiri.

Teori belajar bruner dikenal dengan tiga tahapan belajarnya yang terkenal, yaitu enaktif, ikonik dan simbolik. Pada dasarnya setiap individu pada waktu mengalami atau mengenal peristiwa yang ada di dalam lingkungannya dapat menemukan cara untuk menyatakan kembali peristiwa tersebut di dalam pikirannya, yaitu suatu model mental tentang peristiwa yang dialaminya. Hal tersebut adalah proses belajar yang terbagi menjadi tiga tahapan, yakni:
(1) Tahap enaktif; dalam tahap ini peserta didik di dalam belajarnya menggunakan atau memanipulasi obyek-obyek secara langsung.

(2) Tahap ikonik; pada tahap ini menyatakan bahwa kegiatan anak-anak mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari objek-objek. Dalam tahap ini, peserta didik tidak memanipulasi langsung objek-objek, melainkan sudah dapat memanipulasi dengan menggunakan gambaran dari objek. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep (Sugandi, 2004:37).

(3) Tahap simbolik; tahap ini anak memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan tidak ada lagi kaitannya dengan objek-objek. Anak mencapai transisi dari pengguanan penyajian ikonik ke penggunaan penyajian simbolik yang didasarkan pada sistem berpikir abstrak dan lebih fleksibel. Dalam penyajian suatu pengetahuan akan dihubungkan dengan sejumlah informasi yang dapat disimpan dalam pikiran dan diproses untuk mencapai pemahaman.

Teori Pengajaran Menurut Jerome Bruner

Bruner berpendapat bahwa pengajaran dapat dianggap sebagai (a) hakikat seseorang sebagai pengenal (b) hakekat dari pengetahuan, dan (c) hakekat dari proses mendapatkan pengetahuan. Manusia sebagai makhluk yang paling mulia diantara makhluk-makhluk lain memiliki dua kekuatan yakni akal pikirannya dan kemampuan berbahasa. Dengan dua kemampuan tersebut maka manusia dapat mengembangkan kemampuan yang ada padanya. Dorongan dan hasrat ingin mengenal dan mengetahui dunia dan lingkungan alamnya menyebabkan manusia mempunyai kebudayaan dalam bentuk konsepsi, gagasan, pengetahuan, maupun karya-karyanya. Kemampuan yang ada dalam dirinya mendorongnya untuk mengekspresikan apa yang telah dimilikinya.

Kondisi dan karakteristik tersebut hendaknya melandasi atau dijadikan dasar dalam mengembangkan proses pengajaran. Dengan demikian guru harus memandang siswa sebagai individu yang aktif dan memiliki hasrat untuk mengetahui lingkungan dan dunianya bukan semata- mata makhluk pasif menerima apa adanya.

Selanjutnya bruner berpendapat bahwa teori pengajaran harus mencakup lima aspek utama yakni:

a) Pengalaman optimal untuk mempengaruhi siswa belajar
Bruner melihat bahwa ada semacam kebutuhan untuk mengubah praktek mengajar sebagai proses mendapatkan pengetahuan untuk membentuk pola-pola pemikiran manusia. Kefektifan belajar tidak hanya mempelajari bahan-bahan pengajaran tetapi juga belajar berbagai cara bagaimana memperoleh informasi dan memecahkan masalah. Oleh sebab itu diskusi, problem solving, seminar akan memperkaya pengalaman siswa dan mempengaruhi cara belajar.

b) Struktur pengetahuan untuk membentuk pengetahuan yang optimal
Tujuan terakhir dari pengajaran berbagai mata pelajaran adalah pemahaman terhadap struktur pengetahuan. Mengerti struktur pengetahuan adalah memahami aspe-aspeknya dalam berbagai hal dengan penuh pengertian. Tugas guru adalah member siswa pengertian tentang struktur pengetahuan dengan berbagai cara sehingga mereka dapat membedakan informasi yang berarti dan yang tidak berarti.

c) Spesifikasi mengurutkan penyajian bahkan pelajaran untuk dipelajari siswa
Mengurutkan bahan pengajaran agar dapat dipelajari siswa hendaknya mempertimbangkan criteria sebagi berikut; kecepatan belajar, daya tahan untuk mengingat, transfer bahwa yang telah dipelajari kepada situasi baru, bentuk penyajian mengekspresikan bahan-bahan yang telah dipelajari, apa yang telah dipelajarinya mempunyai nilai ekonomis, apa yang telah dipelajari memilii kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan baru dan menyusun hipotesis.

d) Peranan sukses dan gagal serta hakekat ganjaran dan hukuman
Ada dua alternative yang mungkin dicapai siswa manakala dihadapkan dengan tugas-tugas belajar yakni sukses dan gagal. Sedangkan dua alternative yang digunakan untuk mendorong perbuatan belajar adalah ganjaran dan hukuman. Ganjaran penggunaannya dikaitkan dengan keberhasilan (sukses) hukuman dikaitkan dengan kegagalan.

e) Prosedur untuk merangsang berpikir siswa dalam lingkungn sekolah
Pengajaran hendaknya diarahkan kepada proses menarik kesimpulan dari data yang dapat dipercaya ke dalam suatu hipotesis kemudian menguji hipotesis dengan data lebih lanjut untuk kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan sehingga siswa diajak dan diarahkan kepada pemecahan masalah. Ini berarti belajar pemecahan masalah harus dikembangkan disekolah agar para siswa memiliki ketrampilan bagaimana mereka belajar yang sebenarnya. Melaui metode pemecahan masalah akan merangsang berpikir siswa dalam pengertian luas mencakup proses mencari informasi, menggunakan informasi, memanfaatkan informasi untuk masalah pemecahan lebih lanjut.

Berdasarkan pemikiran diatas Bruner menganjurkan penggunaan metode discovery learning, inquiry learning, dan problem solving.

Metode discovery learning yaitu dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir. Prosedur ini berbeda dengan reception learning dan expository teaching, dimana guru menerangkan semua informasi dan murid harus mempelajari semua bahan atau informasi itu.

Banyak pendapat yang mendukung discovery learning itu, diantaranya J. Dewey (1993) dengan complete art of reflective activity atau terkenal dengan problem solving. Ide Bruner itu ditulis dalam bukunya Process of Education. Didalam buku ini ia melaporkan hasil dari suatu konferensi diantara para ahli science, ahli sekolah atau pengajar dan pendidik tentang pengajran science. Dalam hal ini ia mengemukakan pendapatnya, bahwa mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Pada tingkat permulaan pengajaran hendaknya dapat diberikan melalui cara-cara yang bermakna, dan makin meningkat ke arah yang abstrak.

Bruner mendapatkan pertanyaan, bagaimana kita dapat mengembangkan program pengajaran yang lebih efektif bagi anak yang muda? Jawaban Bruner adalah dengan mengkoordinasikan metode penyajian bahan dengan cara dimana anak dapat mempelajari bahan itu yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak. Tingkat-tingkat kemajuan anak dari tingkat representasi sensori (enactive) ke representasi konkret (iconic) dan akhirnya ketingkat representasi abstrak (symbolic). Demikian juga dalam penyusunan kurikulum.
The act of discovery dari Bruner:
• Adanya suatu kenaikan didalam potensi intelektual
• Ganjaran instrinsik lebih ditekankan daripada ganjaran ekstrensik
• Murid yang mempelajari bagaimana menemukan berarti murid itu menguasai metode discovery learning
• Murid lebih senang mengingat-ingat informasi

Alat Mengajar Menurut Jerome Bruner

Jerome Bruner membagi alat instruksional dalam empat macam menurut fungsinya antara lain:
1) Alat untuk menyampaikan pengalaman “vicaorus” (sebagai pengganti pengalaman yang langsung) yaitu menyajikan bahan yang sedianya tidak dapat mereka peroleh secara langsung di sekolah. Hal ini dapat dilakukan melalui film, TV, rekaman suara dan sebagainya;

2) Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang struktur atau prinsip suatu gejala misalnya model molekul, model bangun ruang;

3) Alat dramatisasi, yakni mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa atau tokoh, film tentang alam, untuk memberikan pengertian tentang suatu idea atau gejala;

4) Alat automatisasi seperti teaching machine atau pelajaran berprograma yang menyajikan suatu masalah dalam urutan teratur dan memberikan balikan atau feedback tentang respon siswa.
Telah banyak alat-alat yang tersedia bagi guru namun yang penting adalah bagaimana menggunakan alat-alat itu sebagai suatu system yang terintegrasi.

Kesimpulan Teori Jerome Bruner

Jerome Bruner adalah tokoh psikologi belejar kognitif yang berpendapat bahwa belajar itu memiliki tiga proses secara simultan yakni:
(a) diperolehnya informasi
(b) transformasi pengetahuan, dan
(c) pengkajian pengetahuan (evaluasi).
Informasi baru mungkin merupakan tambahan atau yang bertentangan dengan informasi yang telah dimilikinya. Transformasi pengetahuan digunakanlebih lanjut melalui intrapolasi dan ekstrapolasi atau mengubahnya dalam bentuk lain. Pengkajian pengetahuan adalah menilai kembali ketetapan dan kelengkapan cara memanipulasi informasi yang telah digunakannya. Bruner menamakan konsep ini dengan konseptualisasi. Pengajaran yang baik hendaknya memperhatikan dan mencakup:
(a) pengalaman optimal dalam belajar siswa
(b) struktur pengetahuan yang dapat membentuk pengalaman optimal
(c) urutan penyajian bahan pelajaran
(d) peranan sukses dan gagal
(e) merangsang berpikir siswa.

Tambahan Materi tentang Teori Jerome Bruner

Proses dan Penerapan Belajar Menurut Jerome

Jerome Bruner dilahirkan dalam tahun 1915. Jerome Bruner, seorang ahli psikologi yang terkenal telah banyak menyumbang dalam penulisan teori pembelajaran, proses pengajaran dan falsafah pendidikan. Bruner setuju dengan Piaget bahwa perkembangan kognitif anak-anak adalah melalui peringkat-peringkat tertentu. Walau bagaimanapun, Bruner lebih menegaskan pembelajaran secara penemuan yaitu mengolah apa yang diketahui pelajar itu kepada satu corak dalam keadaan baru (lebih kepada prinsip konstruktivisme).

Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif.Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik.Penelitiannya yang demikian banyak itu meliputi persepsi manusia, motivasi, belajar dan berfikir. Dalam mempelajarai manusia, ia menganggap manusia sebagai pemroses, pemikir dan pencipta informasi. Bruner menganggap, bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif, yaitu memperoleh informasi baru, transformasi pengetahuan, dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.

Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan.Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan bertahan lama, dan mempunyai efek transfer yang lebih baik.Belajar penemuan meningkatkan penalaran dan kemampuan berfikir secara bebas dan melatih keterampilan-keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah.
Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap. Ketiga tahap itu adalah:
a. tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru.

b.tahap transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain.

c.evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak.
Dalam pembelajaran Kognitif Bruner model ini sangat membebaskan peserta didik untuk belajar sendiri. Teori ini mengarahkan peserta didik untuk belajar secara discovery learning,
a.Menentukan tujuan-tujuan instruksional.
b.Memilih materi pelajaran.
c.Menentukan topik-topik yang akan dipeserta didiki.
d.Mencari contoh-contoh, tugas, ilustrasi dsbnya., yang dapat digunakan peserta didik untuk bahan belajar.
e.Mengatur topik peserta didik dari konsep yang paling kongkrit ke yang abstrak, dari yang sederhana ke kompleks.

Teori Pengajaran Menurut Jerome Bruner

Bruner berpendapat bahwa teori pengajaran harus mencakup lima aspek utama yakni:
a Pengalaman optimal untuk mempengaruhi siswa belajar Bruner melihat bahwa ada semacam kebutuhan untuk mengubah praktek mengajar sebagai proses mendapatkan pengetahuan untuk membentuk pola-pola pemikiran manusia. Keefektifan belajar tidak hanya mempelajari bahan-bahan pengajaran tetapi juga belajar berbagai cara bagaimana memperoleh informasi dan memecahkan masalah.

b. Struktur pengetahuan untuk membentuk pengetahuan yang optimal. Tujuan terakhir dari pengajaran berbagai mata pelajaran adalah pemahaman terhadap struktur pengetahuan. Mengerti struktur pengetahuan adalah memahami aspek-aspeknya dalam berbagai hal dengan penuh pengertian. Tugas guru adalah memberi siswa pengertian tentang struktur pengetahuan dengan berbagai cara sehingga mereka dapat membedakan informasi yang berarti dan yang tidak berarti.

c. Spesifikasi mengurutkan penyajian bahkan pelajaran untuk dipelajari siswa Mengurutkan bahan pengajaran agar dapat dipelajari siswa hendaknya mempertimbangkan kriteria sebagi berikut; kecepatan belajar, daya tahan untuk mengingat, transfer bahwa yang telah dipelajari kepada situasi baru, bentuk penyajian mengekspresikan bahan-bahan yang telah dipelajari, apa yang telah dipelajarinya mempunyai nilai ekonomis, apa yang telah dipelajari memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan baru dan menyusun hipotesis.

d. Peranan sukses dan gagal serta hakikat ganjaran dan hukuman Ada dua alternatif yang mungkin dicapai siswa manakala dihadapkan dengan tugas-tugas belajar yakni sukses dan gagal. Sedangkan dua alternatif yang digunakan untuk mendorong perbuatan belajar adalah ganjaran dan hukuman. Ganjaran penggunaannya dikaitkan dengan keberhasilan (sukses) hukuman dikaitkan dengan kegagalan.

e. Prosedur untuk merangsang berpikir siswa dalam lingkungan sekolah pengajaran hendaknya diarahkan kepada proses menarik kesimpulan dari data yang dapat dipercaya ke dalam suatu hipotesis kemudian menguji hipotesis dengan data lebih lanjut untuk kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan sehingga siswa diajak dan diarahkan kepada pemecahan masalah. Ini berarti belajar pemecahan masalah harus dikembangkan di sekolah agar para siswa memiliki keterampilan bagaimana mereka belajar yang sebenarnya.

Berdasarkan pemikiran di atas,Bruner menganjurkan penggunaan metode discovery learning, inquiry learning, dan problem solving. Metode discovery learning yaitu dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.Prosedur ini berbeda dengan reception learning dan expository teaching, dimana guru menerangkan semua informasi dan murid harus mempelajari semua bahan atau informasi itu.

kurikulum spiral

Teori Bruner mempunyai ciri khas daripada teori belajar yang lain yaitu tentang “discovery” yaitu belajar dengan menemukan konsep sendiri. Di samping itu, karena teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-pengulangan, maka desain yang berulang-ulang itu disebut kurikulum spiral (the spiral curriculum). Secara singkat, kurikulum spiral menuntut guru untuk memberi materi pelajaran setahap demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks, dimana materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi di dalam suatu materi baru yang lebih kompleks.Demikian seterusnya sehingga siswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh.
 
Bruner berpendapat bahwa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang dipelajari. Anak-anak membentuk konsep dengan melihat benda-benda berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan.Selain itu, pembelajaran didasarkan kepada merangsang siswa menemukan konsep yang baru dengan menghubungkan kepada konsep yang lama melalui pembelajaran penemuan.


DAFTAR PUSTAKA
http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2009/10/07/teori-belajar-bruner/ diakses tanggal 19 april 2011
Sujana, Nana. Teori-Teori belajar untuk Pengajaran. LPFE UI. Jakarta: 1990.
Nasution. Berbagai Pendekatan dalam proses belajar mengajar. Bumi Aksara. Jakarta: 1995.
Soemanto, Wasty. Psikologi Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta: 1998

Demikianlah Artikel tentang Bagaimana proses belajar menurut Teori Jerome Bruner, semoga bermanfaat

Posting Komentar untuk "Bagaimana proses belajar menurut Teori Jerome Bruner"